Jumat, 27 Maret 2009

anak berkebutuhan khusus dan alat identifikasi abk

ALAT IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
termasuk didalamnya dilampirkan beberapa instrumen ABK

OLEH:

khofidlotur rofiah




ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN KARAKTERISTIKNYA


A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan. Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak.

Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu : anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu, dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan. Misalnya, anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat kerusuhan dan bencana alam, atau tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak yang mengalami kedwibahasaan (perbedaan bahasa di rumah dan di sekolah), anak yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan karena isolasi budaya dan karena kemiskinan dsb. Anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan intervensi yang tepat dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen.

Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki perkembangan hambatan belajar dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak, disebabkan oleh tiga hal, yaitu : (1) faktor lingkungan (2) faktor dalam diri anak sendiri, dan (3) kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor dalam diri anak. Sesuai kebutuhan lapangan maka pada buku ini hanya dibahas secar singkat pada kelompok anak berkebutuhan khusus yang sifatnya permanen.


B. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi anak berkebutuhan khusus temporer dan permanen. Anak berkebutuhan khusus permanen meliputi :

1. Anak dengan gangguan fisik, dikelompokkan lagi menjadi:

a. Anak dengan gangguan penglihatan (Tunanetra),

1). Anak Kurang Awas (low vision)

2). Anak buta (blind).

b. Anak dengan gangguan pendengaran dan bicara (Tunarungu/Wicara),

1). Anak kurang dengar (hard of hearing)

2). Anak tuli (deaf)

c. Anak dengan kelainan Kecerdasan

1) Anak dengan gangguan kecerdasan (intelektual) di bawah rata-rata (tunagrahita)

a). Anak tunagrahita ringan ( IQ IQ 50- 70).

b). Anak tunagrahita sedang (IQ 25 – 49).

c). Anak tunagrahita berat (IQ 25 – ke bawah).

2) Anak dengan kemampuan intelegensi di atas rata-rata

a). Giffted dan Genius, yaitu anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata

b). Talented, yaitu anak yang memiliki keberbakatan khusus

d. Anak dengan gangguan anggota gerak (Tunadaksa).

1). Anak layuh anggota gerak tubuh (polio)

2). Anak dengan gangguan fungsi syaraf otak (cerebral palcy)

e. Anak dengan gangguan prilaku dan emosi (Tunalaras)

1). Anak dengan gangguan prilaku

  • Anak dengan gangguan prilaku taraf ringan

  • Anak dengan gangguan prilaku taraf sedang

  • Anak dengan gangguan prilaku taraf berat

2). Anak dengan gangguan emosi

  • Anak dengan gangguan emosi taraf ringan

  • Anak dengan gangguan emosi taraf sedang

  • Anak dengan gangguan emosi taraf berat

g. Anak gangguan belajar spesifik

h. Anak lamban belajar (slow learner)

i. Anak Autis

y. Anak ADHD

C. Karakteristik dan Kebutuhan Pembelajaran ABK

1. Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)

Anak dengan gangguan penglihatan (Tunanetra) adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihataan sedemikian rupa, sehingga membutuhkaan layanan khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya.

Layanan khusus dalam pendidikan bagi mereka, yaitu dalam membaca menulis dan berhitung diperlukan huruf Braille bagi yang buta, dan bagi yang sedikit penglihatan diperlukan kaca pembesar atau huruf cetak yang besar, media yang dapat diraba dan didengar atau diperbesar. Di samping itu diperlukan latihan orientasi dan mobilitas.

Untuk mengenali mereka, kita dapat melihat ciri-ciri sebagai berikut:

1) Kurang melihat (kabur), tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 m.

2) Kesulitan mengambil benda kecil didekatnya.

3) Tidak dapat menulis mengikuti garis lurus.

4) Sering meraba-raba dan tersandung waktu berjalan,

5) Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik kering.

6) Tidak mampu melihat.

7) Peradangan hebat pada kedua bola mata,

8) Mata bergoyang terus

1.2 Anak dengan gangguan penglihatan dapat juga dikelompokkan berdasarkan:

1.2.1. Berdasarkan ukuran ketajaman penglihatan, anak tunanetra dapat dibagi menjadi:

  1. Mampu melihat dengan ketajaman penglihatan (acuity) 20/70 artinya anak tunanetra melihat dari jarak 20 feet (6 meter) sedangkan orang normal dari jarak 70 feet (21 meter). Mereka digolongkan ke dalam low vision (keterbatasan penglihatan)

  2. Mampu membaca huruf paling besar di Snellen Chart dari jarak 20 feet [ acuity 20/200 – legal blind ] dikategorikan Buta. Ini berarti anak tunanetra melihat huruf E dari jarak 6 meter, sedangkan anak normal dari jarak 60 meter.

Karakteristik anak yang memiliki keterbatasan pengelihatan (low vision):

  1. Mengenal bentuk atau objek dari berbagai jarak.

  2. Menghitung jari dari berbagai jarak.

  3. Tidak mengenal tangan yang digerakan.

3. Kelompok yang mengalami keterbatasan pengelihatan berat [buta] :

  1. Mempunyai persepsi cahaya [ligt perception)

  2. Tidak memiliki persepsi cahaya [ no light perception ]

1.2.2. Dalam perspektif pendidkan, tunanetra dikelompokan menjadi :

  1. Mereka yang mampu membaca huruf cetak standar.

  2. Mampu membaca huruf cetak standar,tetapi dengan bantuan kaca pembesar.

  3. Mampu membaca huruf cetak dalam ukuran besar[ ukuran huruf no. 18.].

  4. Mampu membaca huruf cetak secara kombinasi, cetakan reguler, dan cetakan besar.

  5. Menggunakan Braille tetapi masih bisa melihat cahaya.


1.3. Keterbatasan anak tunanetra :

  1. Keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru.

  2. Keterbatasan dalam berinteraksi dalam lingkungan.

  3. Keterbatasan dalam mobilitas.

1.4. Kebutuhan pembelajaran anak tunanetra

Karena keterbatasan anak tunanetra seperti tersebut di atas maka pembelajaran bagi mereka mengacu pada prinsif- prinsif sebagai beikut:

  1. Kebutuhan akan pengalaman konkrit.

  2. Kebutuhan akan pengalaman yang terintegrasi.

  3. Kebutuhan dalam berbuat dan bekerja dalam belajar


1.5. Media belajar anak tunanetra dikelompokan menjadi dua yaitu:

  1. Kelompok buta dengan media penulisan braille.

  2. Kelompok low vision dengan media tulisan awas yang dimodifikasi [misalnya tipe hurup diperbesar dan penggunaan alat pembesar].


2. Anak dengan Gangguan Pendengaran (Tunarungu)

Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga mengalami gangguan berkomunikasi secara verbal. Walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar, mereka masih tetap memerlukan layanan pendidikan khusus.

2.1. Ciri-ciri anak tunarungu adalah sebagai berikut :

  1. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar.

  2. Banyak perhatian terhadap getaran.

  3. Terlambat dalam perkembangan bahasa

  4. Tidak ada reaksi terhadap bunyi atau suara,

  5. Terlambat perkembangan bahasa,

  6. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,

  7. Kurang atau tidak tanggap dalam diajak bicara,

  8. Ucapan kata tidak jelas, kualitas suara aneh/monoton,

2.2 Kebutuhan Pembelajaran anak tunarungu, secara umum tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Tetapi mereka memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran antara lain :

  1. Tidak mengajak anak untuk berbicara dengan cara membelakanginya

  2. Anak hendaknya didudukkan paling depan, sehingga memiliki peluang untuk mudah membaca bibir guru.

  3. Perhatikan postur anak yang sering memiringkan kepala untuk mendengarkan.

  4. Dorong anak untuk selalu memperhatikan wajah guru, bicaralah dengan anak dengan posisi berhadapan dan bila memungkinkan kepala guru sejajar dengan kepala anak.

  5. Guru bicara dengan volume biasa tetapi dengan gerakan bibirnya yang harus jelas.


3. Anak dengan Gangguan Intelektual (Tunagrahita)

Tunarahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental- intelektual di bawah rata-rata, sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Mereka memerlukan layanan pendidikam khusus.

Ketunagrahitaan mengacu pada intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata. Para tunagrahita mengalami hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Dengan demikian, seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga indikator, yaitu: (1) Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, (2) Ketidakmampuan dalam prilaku sosial, dan (3) Hambatan perilaku adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun.

Tingkat kecerdasan seseorang diukur melalui tes inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quitient). Tingkat kecerdasan biasa dikelompokkan ke dalam tingkatan sebagai berikut:

  1. Tunagrahita ringan memiliki IQ 70-55

  2. Tunagrahita sedang memiliki IQ 55-40

  3. Tunagrahita berat memiliki IQ 40-25

  4. Tunagrahita berat sekali memiliki IQ <25

Contoh perbedaan kemampuan belajar dan penyelesaian tugas anak tunagrahita berdasarkan ekuivallensi usia kelender (CA) dengan Usia Mental (MA) sebagai berikut :

Nama

Umur (CA)

IQ

Umur kecerdasan (MA)

Kemampuan mempelajari dan melakukan tugas

Si A

10 th

100

10 tahun

Ia tidak kesulitan mempelajari kemampuan tugas-tugas seumurnya karena CA-nya, sama dengan MA-nya (normal)


Si B

10 th

70-55

7-5,5 tahun

Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/ tugas anak usia 5,5 tahun sampai dengan 7 tahun

Si C

10 th

55-40

5,5-4 tahun

Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/ tugas anak usia 4 tahun sampai dengan 5,5 tahun

Si D

10 th

40-25

4 th -2,5 tahun

Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/ tugas anat usia 4 tahun sampai 2,5 tahun

Si E

10 th

25 ke

2,5tahun ke

bawah

Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/ tugas anak usia 2,5 tahun kebawah


3.1 Ciri-ciri fisik dan penampilan anak tungrahita :

  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,

  2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,

  3. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan

  4. Kordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali)

3.2. Kebutuhan Pembelajaran Anak Tunagrahita:

    1. Perbedaan tunagrahita dengan anak normal dalam proses belajar adalah terletak pada hambatan dan masalah atau karakteristik belajarnya.

    2. Perbedaan karakteristik belajar anak tunagrahita dengan anak sebayanya, anak tunagrahita mengalami masalah dalam hal yaitu:

      • Tingkat kemahirannya dalam dalam mamecahkan masalah .

      • Melakukan generalisasi dan mentranfer sesuatu yang baru

      • Minat dan perhatian terhadap penyelesaian tugas .


4. Anak dengan Gangguan Gerak Anggota Tubuh (Tunadaksa)

Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada anggota gerak [tulang, sendi,otot]. Mereka mengalami gangguan gerak karena kelayuhan otot, atau gangguan fungsi syaraf otak (disebut Cerebral Palsy /CP].

Pengertian anak Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya.

Dari segi fungsi fisik, tunadaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatanya terganggu sehingga mengalami kelainan di dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Untuk meningkatkan fungsinya diperlukan program dan layanan pendidikan khusus. Peristilahan dalam kelumpuhan dibagi menurut daerah kelumpuhannya. Kelumpuhan sebelah badan disebut hemiparalise, kelumpuhan kedua anggota gerak bawah disebut paraparalise.


4.1 Ciri-ciri anak tunadaksa dapat di lukiskan sebagai berikut :

  1. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,

  2. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/ lebih kecil dari biasa,

  3. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali, bergetar)

  4. Terdapat cacat pada anggota gerak,

  5. Anggota gerak layu, kaku,lemah/lumpuh,

4.2 Kebutuhan Pembelajaran Anak Tunadaksa

Guru sebelum memberikan pelayanan dan pembelajaran bagi anak tundaksa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Segi kesehatan anak

Apakah ia memililki kelainan khusus seperti kencing manis atau pernah dioperasi, kalau digerakkan sakit sendinya, dan masalah lain seperti harus meminum obat dan sebagainya

b. Kemampuan gerak dan mobilitas

Apakah anak ke sekolah menggunakan transportasi khusus, alat bantu gerak, dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan.

c. Kemampuan komunikasi.

Apakah ada kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi yang akan digunakan (lisan, tulisan, isyarat) dan sebagainya.

d. Kemampuan dalam merawat diri

Apakah anak dapat melakukan perawatan diri dalam aktivitas sehari-hari atau tidak. Misalnya; dalam berpaian, makan, mandi dll

e. Posisi

Bagaimana posisi anak tersebut pada wakyu menggunakan alat bantu, duduk pada saat menerima pelajaran, waktu istirahat, di kamar kecil (toilet), saat makan dan sebagainya. Sehinga physical therapis sangat diperlukan.


5. Anak dengan gangguan Prilaku dan Emosi (Tunalaras)

Anak dengan gangguan prilaku (Tunalaras) adalah anak yang berperilaku menyimpang baik pada taraf sedang, berat dan sangat berat, terjadi pada usia anak dan remaja, sebagai akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya memerlukan pelayanan dan pendidikan secara khusus.

Di dalam dunia PLB dikenal dengan nama anak tunalaras (behavioral disorder). Kelainan tingkah laku ditetapkan bila mengandung unsur :

  1. Tingkahlaku anak menyimpang dari standar yang diterima umum.

  2. Derajat penyimpangan tingkah laku dari standart umum sudah exstrim.

  3. Lamanya waktu pola tingkah laku itu dilakukan.

5.1. Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki ciri-ciri:

    1. Cenderung membangkang

    2. Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah

    3. Sering melakukan tindakan agresif,merusak,mengganggu

    4. Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum

    5. Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering bolos jarang masuk sekolah

5.2. Kebutuhan pembelajaran anak Tunalaras.

Kebutuhan pembelajaran bagi anak tunalaras yang harus diperhatikan guru antara lain adalah:

  1. Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan) bagi setiap anak

  2. Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi oleh setiap anak

  3. Adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat anak.

  4. Perlu adanya pengembangan ahlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari, dan contoh dari lingkungan.


6. Anak dengan Kecerdasan Tinggi dan Bakat Istimewa (Gifted and Tallented)

Anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi (giftted) dan Anak yang memiliki Bakat Istimewa (talented) adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment ) di atas anak-anak seusianya ( anak normal ), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak cerdas dan berbakat istimewa disebut sebagai ”gifted & talented children”.

6.1. Anak berbakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Membaca pada usia lebih muda, lebih cepat, dan memiliki perbendaharaan kata yang luas

  2. Memiliki rasa ingin tahu yang kuat, minat yang cukup tinggi

  3. Mempunyai inisiatif, kreatif dan original dalam menunjukkan gagasan

  4. Mampu memberikan jawaban-jawaban atau alasan yang logisi, sistimatis dan kritis

  5. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan

  6. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu yang panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati,

  7. Senang mencoba hal-hal baru,

  8. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi, Mempunyai daya imajinasi dan ingatan yang kuat,

  9. Senang terhadap kegiaan inelektual dan pemecahan- pemecahan masalah,

  10. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,

  11. Tidak cepat puas atas prestasi yang dicapainya

  12. Lebih senang bergaul dengan anak yang lebih tua usianya.

  13. Dapat menguasai dengan cepat materi pelajaran

Anak talented adalah anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang tertentu, misalnya hanya dalam bidang matematik,ilmu pengetahuan alam, bahasa, kepemmpinan, kemampuan psikomotor, penampilan seni.

6.2 Kebutuhan pembelajaran anak gifted dan tallented

Untuk program pendidikan bagi anak gifted dan tallented bisa dikembangkan dalam bentuk:

a. Program kesamping (Horizontal program) yaitu:

  1. Mengembangkan kemampuan explorasi.

  2. Mengembangkan pengayakan dalam arti memperdalam dan memperluas hal-hal yang ada diluar kurikulum biasa.

  3. Excekutif intensive dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program intensif bidang tertentu yang diminati secara tuntas dan mendalam dalam waktu tertentu.

b. Program keatas (vertical program) yaitu:

  1. Acceleration, percepatan/maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai dengan kemampuannya, dan jangan dibatasi oleh jumlah waktu,atau tingkatan kelas.

  2. Independent study, memberikan seluas-luasnya kepada anak untuk belajar dan menjelajahi sendiri bidang yang diminati.

  3. Mentorship, memadukan antara yang diminati anak gifted dan tallented dengan para ahli yang ada di masyarakat.


7. Anak Lamban Belajar ( Slow Learner)

Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah anak normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar 80-85). Dalam beberapa hal anak ini mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan kemampuan untuk beradaptasi, tetapi lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. Mereka membutuhkan waktu belajar lebih lama disbanding dengan sebayanya. Sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.

7.1 Ciri-ciri yang dapat diamati pada anak lamban belajar:

  1. Rata-rata prestasi belajarnya rendah (kurang dari 6),

  2. Menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,

  3. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,

  4. Pernah tidak naik kelas.

7.2 Anak lamban belajar membutuhkan pembelajaran khusus antara lain:

    1. Waktu yang lebih lama dibanding anak pada umumnya

    2. Ketelatenan dan kesabaran guru untuk tidak terlalu cepat dalam memberikan penjelasan

    3. Memperbanyak latihan dari pada hapalan dan pemahaman

    4. Menuntut digunakannya media pembelajaran yang variatif oleh guru

    5. Diperlukan adanya pengajaran remedial


8. Anak Berkesulitan Belajar Spesifik

Dalam pelayanan pendidikan di Sekolah Reguler, sering kali guru dihadapkan pada siswa yang mengalami problem belajar atau kesulitan belajar Salah satu kelompok kecil siswa yang termasuk dalam klasifikasi tersebut adalah kelompok anak yang berkesulitan belajar spesifik atau disebut specific learning disabilitis

Anak berkesulitan belajar adalah individu yang mengalami gangguan dalam suatu proses psikologis dasar, disfungsi sistem syaraf pusat, atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan nyata dalam: pemahaman, gangguan mendengarkan, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. Kesulitan tersebut bukan bersumber pada sebab-sebab keterbelakangan mental, gangguan emosi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau karena kemiskinan, lingkungan, budaya, ekonomi, ataupun kesalahan metode mengajar yang dilakukan oleh guru.

Secara garis besar kelompok siswa berkesulitan belajar dapat dibagi dua. Pertama, yang berkaitan dengan perkembangan (developmental learning disabilities), mencakup gangguan motorik dan persepsi, bahasa dan komunikasi, memori, dan perilaku sosial. Kedua yang berkaitan dengan akademik (membaca, menulis, dan berhitung) sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, tetapi kedua kelompok ini tidak dapat dipisahkan secara tegas karena ada keterkaitan di antara keduanya (Kirk dan Gallagher, 1986: Mulyono Abduraahman, 1996: Hidayat, 1996).

Kesulitan belajar dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari siswa yang berkecerdasan rata-rata, sampai yang berinteleligensi tinggi. Kesulitan belajar dapat berdampak negatif tidak saja dalam penguasaan prestasi akademik, tetapi juga perkembangan kepribadiannya.

Kesulitan belajar yang dialaminya bukanlah sesuatu yang menetap, sebab intervensi dini dan pendekatan propesional secara terpadu dapat menangani kesulitan belajar yang mereka hadapi.

Sesuai dengan fungsi, peran dan tanggung jawabnya, guru di sekolah reguler memiliki posisi strategis dalam turut membantu siswanya yang berkesulitan belajar. Guru merupakan ujung tombak dalam membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi para siswanya, termasuk permasalahan yang dihadapi anak kesulitan belajar. Untuk itu, sejalan dengan bervariasinya jenis dan tingkat kesulitan belajar yang dihadapi anak, langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah mampu melakukan identifikasi atau penjaringan terhadap mereka melalui pengenalan ciri-ciri atau karakteristik yang ditampilkannya. Kedua, mampu melakukan assesmen, merumuskan dan melaksanakan program pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik, permasalahan, dan kebutuhannya. Dan, kemampuan melakukan kerja sama secara terpadu dengan propesi lain yang terkait dengan kondisi anak.

Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan dalam mata pelajaran lain, mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti.

8.1. Ciri-ciri anak berkesulitan belajar spesifik:

Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)

  1. Kesulitan membedakan bentuk,

  2. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,

  3. Sering melakukan kesalahan dalam membaca

8.2. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)

  1. Kalau menyalin tulisan serng terlambat selesai.

  2. Sering salah menulis hurup b dengan p, p dengan q,v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,

  3. hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,

  4. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.

  5. Menulis huruf dengan posisi terbalik (p ditulis q atau b)

8.3 Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkulia)

  1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =

  2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,

  3. Sering salah membilang secara berurutan

  4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,

  5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

8.4 Kebutuhan Pembelajaran Anak Berkesulitan belajar khusus

Anak berkesulitan belajar khusus memiliki dimensi kelainan dalam beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, diantaranya:

  1. Materi pembelajaran hendaknya disesuikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi anak

  2. Memerlukan uratan belajar yang sistimatis yaitu dari pemahaman yang konkrit ke yang abstrak

  3. Menggunakan berbagai media pembelajaran yang sesuai dengan hambatannya.

  4. Pembelajaran sesuai dengan urutan dan tingkatan pemahaman anak

  5. Pembelajaran remedial.





9. Anak Autis

Autis dari kata auto, yang berarti sendiri, dengan demikian dapat diartikan seorang anak yang hidup dalam dunianya. Anak autis cenderung mengalami hambatan dalam interaksi, komunikasi, perilaku sosial.

9.1. Anak autis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mengalami hambatan di dalam bahasa

  2. Kesulitan dalam mengenal dan merespon emosi dengan isyarat sosial

  3. Kekakuan dan miskin dalam mengekspresikan perasaan

  4. Kurang memiliki perasaan dan empati

  5. sering berperilaku diluar kontrol dan meledak-ledak

  6. Secara menyeluruh mengalami masalah dalam perilaku

  7. kurang memahami akan keberadaan dirinya sendiri

  8. keterbatasan dalam mengekspresikan diri

  9. Berprilaku monoton dan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan

9.2. Kebutuhan Pembelajaran Anak Autis:

Anak autis membutuhkan pembelajaran khusus antara lain sebagai berikut:

  1. Perlukan adanya pengembangan strategi untuk belajar dalam seting kelompok

  2. Perlu menggunakan beberapa teknik di dalam menghilangkan perilaku-perilaku negatif yang muncul dan mengganggu kelangsungan proses belajar secara keseluruhan (stereotip)

  3. Guru perlu mengembangkan ekspresi dirinya secara verbal dengan berbagai bantuan

  4. Guru terampil mengubah lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi anak, sehingga tingkah laku anak dapat dikendalikan pada hal yang diharapkan.


KONSEP IDENTIFIKASI


A. Aspek yang Perlu Diidentifikasi


Istilah identifikasi secara harfiah dapat diartikan menemukan atau menemukenali. Dalam buku ini istilah identifikasi anak luar biasa dimaksudkan sebagai usaha seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, sosial, emosional, dan/atau sensoris neurologis) dalam pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal).

Setelah dilakukan identifikasi dapat diketahui kondisi seseorang, apakah pertumbuhan/perkembangannya mengalami kelainan/ penyimpangan atau tidak. Bila mengalami kelainan/penyimpangan, dapat diketahui pula apakah anak tergolong : (1) Tunanetra, (2), Tunarungu, (3) Tunagrahita, (4) Tunadaksa (5) Anak Tunalaras, (6) Anak lamban belajar, (7) Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik, (8) Anak Autis (9) Anak Berbakat, (10). Anak ADHD ( gangguan perhatian dan hiperaktif).

Kegiatan identifikasi sifatnya masih sederhana dan tujuannya lebih ditekankan pada menemukan (secara kasar) apakah seorang anak tegolong anak luar biasa atau bukan. Maka biasanya identifikasi dapat dilakukan oleh orang-orang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuh, guru dan pihak lain yang terkait dengannya. Sedangkan langkah selanjutnya, yang sering disebut asesmen, dan bila diperlukan dapat dilakukan oleh tenaga profesional, seperti dokter, psikolog, neurolog, orthopedagog, therapis, dan lain-lain.


B. Tujuan Identifikasi


Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (pisik, intelektual, sosial, emosional). Disebut mengalami kelainan/penyimpangan tentunya jika dibandingkan dengan anak lain yang sebaya dengannya. Hasil dari identifkasi akan dilanjutkan dengan asesment, yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan progam pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya.

Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak berkebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan,yaitu:

1) Penjaringan (screening),

2) Pengalihtanganan (referal),

3) Klasifikasi,

4) Perencanaan pembelajaran, dan

5) Pemantauan kemajuan belajar.

Adapun penjelasan dari kegiatan tersebut sebagai berikut:

1. Penjaringan (screening)

Penjaringan dilakukan terhadap semua anak di kelas dengan alat identifikasi anak berkebutuhan khusus. Contoh alat identifikasi terlampir. Pada tahap ini identifikasi berfungsi menandai anak-anak mana yang menunjukan gejala-gejala tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang mengalami kelainan/penyimpangan tertentu, sehingga tergolong Anak Berkebutuhan Khusus.

Dengan alat identifikasi ini guru, orangtua, maupun tenaga profesional terkait, dapat melakukan kegiatan penjaringan secara baik dan hasilnya dapat digunakan untuk bahan penanganan lebih lanjut.

2. Pengalihtanganan (referal),

Berdasarkan gejala-gejala yang ditemukan pada tahap penjaringan, selanjutnya anak –anak dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok. Pertama, ada Anak yang perlu dirujuk ke ahli lain (tenaga profesional) dan dapat langsung ditangani sendiri oleh guru dalam bentuk layanan pembelajaran yang sesuai.

Kedua, ada anak yan perlu dikonsultasikan keahlian lain terlebih dulu (referal) seperti psikolog, dokter, orthopedagog (ahli PLB), dan therapis, kemudian ditangani oleh guru.

Proses perujukan anak oleh guru ke tenaga profesional lain untuk membantu mengatasi masalah anak yang bersangkutan disebut proses pengalihtanganan (referral). Bantuan ke tenaga lain yang ada seperti Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) atau konselor.

3. Klasifikasi

Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk menentukan apakah anak yang telah dirujuk ketenaga profesional benar-benar memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan pendidikan khusus.

Apabila berdasar pemeriksaan tenaga profesional ditemukan masalah yang perlu penangan lebih lanjut (misalnya pengobatan, terapi, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan. Jadi guru tidak mengobati dan/atau memberi terapi sendiri , melainkan memfasilitasi dan meneruskan kepada orang tua tentang kondisi anak yang bersangkutan. Guru hanya memberi pelayanan pendidikan sesuai dengan kondisi anak. Apabila tidak ditemukan tanda-tanda yang cukup kuat bahwa anak yang bersangkutan memerlukan penanganan lebih lanjut, maka anak dapat dikembalikan kekelas semula untuk mendapatkan pelayanan pendidikan khusus dikelas reguler.

4. Perencanaan pembelajaran

Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk keperluan penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI). Dasarnya adalah hasil dari klasifikasi . Setiap jenis dan gradasi (tingkat kelainan ) anak berkebutuhan khusus memerlukan program pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Mengenai program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI) akan dibahas secara khusus dalam buku yang lain tentang pembelajaran dalam pendidikan inklusif.



5. Pemantauan kemajuan belajar

Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil atau tidak. Apabila dalam kurun waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau kembali. Beberapa hal yang perlu ditelaah apakah diagnosis yang kita buat tepat atau tidak, begitu pula dengan Program Pembelajaran Individual (PPI) serta metode pembelajaran yang digunakan sesuai atau tidak dll

Sebaliknya, apabila intervensi yang diberikan menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan maka pemberian layanan atau intervensi diteruskan dan dikembangkan

Dengan lima tujuan khusus diatas, indentifikasi perlu dilakukan secara terus menerus oleh guru, dan jika perlu dapat meminta bantuan dan/atau bekerja sama dengan tenaga professional yang dekat dengan masalah yang dihadapi anak.


C. Sasaran Indentifikasi

Secara umum sasaran indentifikasi Anak Berkebutuhan Khusus adalah seluruh anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar. Sedangakan secara khusus (operasional), sasaran indentifikasi Anak Berkebutuhan Khusus adalah:

1. Anak yang sudah bersekolah di Sekolah reguler

2. Anak yang akan masuk ke Sekolah reguler

3. Anak yang belum/tidak bersekolah


D. Petugas Indetifikasi

Untuk mengindentifikasi seorang anak apakah tergolong Anak Berkebutuhan Khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:

1. Guru kelas;

2. Guru Pembimbing Khusus

3. Orang tua anak; dan/atau

4. Tenaga profesional terkait.


PELAKSANAAN IDENTIFIKASI DAN TINDAK LANJUT

A. Pelaksanaan Indetifikasi

Ada beberapa langkah identifikasi anak berkebutuhan khusus. Untuk identifikasi anak usia sekolah yang belum bersekolah atau drop out, maka sekolah yang bersangkutan perlu melakukan pendataan di masyarakat kerjasama dengan Kepala Desa/Lurah, RT, RW setempat dan posyandu Jika pendataan tersebut ditemukan anak berkelainan, maka proses berikutnya dapat dilakukan pembicaraan dengan orangtua, komite sekolah maupun perangkat desa setempat untuk mendapatkan tindak lanjutnya.

Untuk anak-anak yang sudah masuk dan menjadi siswa di sekolah , indentifikasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menghimpun Data Anak

Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi seluruh siswa di kelas (berdasarkan gejala yang nampak pada siswa) dengan menggunakan Alat Indentifikasi Anak Berkebutahan Khusus (AIALB). Lihat Format 3 terlampir.

2. Menganalisis Data dan Mengklasifikasikan Anak

Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan anak-anak yang tergolong Anak Berkebutuhan Khusus (yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yang diindikasikan berkelainan sesuai dengan ciri-ciri. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukkan ke dalam daftar nama-nama anak yang berindikasi kelainan sesuai dengan format khusus yang disediakan seperti terlampir (Lihat Format 4). Sedangkan untuk anak-anak yang tidak menunjukan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukan kedalam daftar khusus tersebut.




3. Menginformasikan Hasil Analisis dan Klasifikasi

Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah, orang tua siswa, dewan komite sekolah untuk mendapatkan saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.

4. Menyelenggarakan Pembahasan Kasus (case conference)

Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah setelah data Anak Berkebutuhan Khusus terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan: (1) Kepala Sekolah sendiri; (2) Dewan Guru; (3) orang tua/wali siswa; (4) tenaga profesional terkait, jika tersedia dan memungkinkan; (5) Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) jika tersedia dan memungkinkan.

Materi pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari masing-masing guru mengenai hasil indentifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara pencegahan serta penanggulangannya.

5. Menyusun Laporan Hasil Pembahasan Kasus

Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil pertemuan kasus. Format hasil pertemuan kasus dapat menggunakan contoh seperti pada lampiran (Lihat Format 5).


B. Tindak Lanjut Kegiatan Indentifikasi

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan indentifikasi anak berkelaian untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, maka dilakukan tindak lanjut sebagia berikut:

1. Pelaksanaan Asesmen:

Asesmen merupakan kegiatan penyaringan terhadap anak-anak yang telah teridentifikasi sebagai anak berkebutuhan khusus. Kegiatan asesmen dapat dilakukan oleh guru, orang tua (untuk beberapa hal), dan tenaga professional lain yang tersedia sesuai dengan kompetensinya. Kegiatan asesmen meliputi beberapa bidang, antara lain:



a. Asesmen akademik:

Assesment akademik sekurang-kurangnya meliputi 3 asppek yaitu kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

b. Asesmen sensoris dan motorik:

Assesment sensoris untuk mengetahui gangguan pengelihatan, pendengaran. Sedangkan assesment motorik untuk mengetahui gangguan motorik kasar, motorik halus, keseimbangan dan locomotor yang dapat mengganggu pembelajaran bidang lain.

c. Asesmen psikologis, emosi dan sosial

Assesment psikologis dapat digunakan untuk mengetahui potensi intelektual dan kepribadian anak. Juga dapat diperluas dengan tingkat emosi dan sosial anak.

Ada bagian-bagian tertentu yang dalam pelaksanaan asesmen membutuhkan tenaga professional sesuai dengan kewenangannya. Guru dapat membantu dan memfasilitasi terselenggaranya asesmen tersebut sesuai dengan kemampuan orangtua dan sekolah.


2. Perencanaan Pembelajaran

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi: menganalisis hasil asesmen untuk kemudian dideskripsikan, ditentukan penempatan untuk selanjutnya, dibuatkan program pembelajaran berdasarkan hasil asesmen

Langkah selanjutnya menganalisis kurikulum, dengan menganalisis kurikulum maka kita dapat memilah bidang studi yang perlu ada penyesuaian. Hasil analisis kurikulum ini kemudian diselaraskan dengan program hasil esesmen sehingga tersusun sebuah program yang utuh yang berupa Program Pembelajaran Individual (PPI).

Penyusunan PPI dilakukan dalam sebuah team yang sekurang-kurangnya terdiri dari guru kelas dan mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua/wali serta guru pembimbing khusus. Pertemuan perlu dilakukan untuk menentukan kegiatan yang sesuai dengan anak serta penentuan tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan.

3. Pelaksanaan Pembelajaran

Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan di kelas regular sesuai dengan rancangan yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan melalui individualisasi pengajaran artinya; anak belajar pada topik yang sama waktu dan ruang yang sama, namun dengan materi yang berbeda-beda. Cara lain proses pembelajaran dilakukan secara individual artinya anak diberi layanan secara individual dengan bantuan guru khusus. Proses ini dapat dilakukan jika dianggap memiliki rentang materi/ keterampilan yang sifatnya mendasar (prerequisit). Proses layanan ini dapat dilakukan secara terpisah atau masih kelas tersebut sepanjang tidak mengganggu situasi belajar secara keseluruhan

4. Pemantauan Kemajuan Belajar dan Evaluasi

Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak. Jika anak mengalami kemajuan dalam belajar, pendekatan yang dipilih guru perlu terus dipertahankan, tetapi jika tidak terdapat kemajuan, perlu diadakan peninjauan kembali, baik mengenai materi, pendekatan, maupun media yang digunakan anak yang bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya semua problema belajar anak, secara bertahap dapat diperbaiki sehingga anak terhindar dari putus sekolah.








PETUNJUK PENGISIAN

1. Gunakan Alat Indetifikasi Anak Luar Biasa (AI-ALB) untuk anak yang dicurigai memiliki masalah

2. Beri tanda ceklis (V) pada kolom pernyataan sesuai dengan gejala yang muncul


Catatan :

  1. Usahakan untuk melihat gejala-gejala yang tampak pada setiap anak dengan seksama, mungkin memerlukan waktu beberapa hari, jangan tergesa-gesa;

  2. Agar gejala mudah dikenali, pada beberapa pernyataan, anak dapat terlebih dahulu diberi tugas tertentu baru kemudian diamati pada saat mereka mereka mengerjakan tugas tersebut;

  3. Terdapat kemungkinan bahwa seorang anak mengalami lebih dari satu jenis kelainan (kelainan ganda)










Isian Form 1

INFORMASI PERKEMBANGAN ANAK

(Diisi oleh Orang tua)

Petunjuk :

Isilah daftar berikut pada kolom yang tersedia sesuai dengan kondisi anak yang sebenarnya. Jika ada yang kurang jelas, konsultasikan kepada guru kelas tempat anak Bapak/Ibu bersekolah.


A. Identitas Anak :

  1. Nama : ..............................................

  2. Tempat dan tanggal lahir/umur : ..............................................

  3. Jenis kelamin : ..............................................

  4. Agama : ..............................................

  5. Status anak : ..............................................

  6. Anak ke dari jumlah saudara : ..............................................

  7. Nama sekolah : ..............................................

  8. Kelas : ..............................................

  9. Alamat : ..............................................


    1. Riwayat Kelahiran :

  1. Perkembangan masa kehamilan : ..............................................

  2. Penyakit pada masa kehamilan : ..............................................

  3. Usia kandungan : ..............................................

  4. Riwayat proses kelahiran : ..............................................

  5. Tempat kelahiran : ..............................................

  6. Penolong proses kelahiran : ..............................................

  7. Gangguan pada saat bayi lahir : ..............................................

  8. Berat bayi : ..............................................

  9. Panjang bayi : ..............................................

  10. Tanda-tanda kelainan pada bayi : ..............................................




C. Perkebangan Masa Balita :

  1. Menetek ibunya hingga umur : ...................................................

  2. Minum susu kaleng hingga umur : ...................................................

  3. Imunisasi (lengkap/tidak) : ..................................................

  4. Pemeriksaan/penimbangan rutin/tdk : ..............................................

  5. Kualitas makanan : ..................................................

  6. Kuantitas makan : ..................................................

  7. Kesulitan makan (ya/tidak) : ..................................................


D. Perkembangan Fisik :

  1. Dapat berdiri pada umur : ....................................................

  2. Dapat berjalan pada umur : ....................................................

  3. Naik sepeda roda tiga pada umur : ...................................................

  4. Naik sepeda roda dua pada umur : ....................................................

  5. Bicara dengan kalimat lengkap : ....................................................

  6. Kesulitan gerakan yang dialami : ....................................................

  7. Status Gizi Balita (baik/kurang) : ....................................................

  8. Riwayat kesehatan (baik/kurang) : ....................................................

  9. Penggunaan tangan dominan : …………………………………………..

E. Perkembangan Bahasa :

  1. Meraba/berceloteh pada umur : .................................................

  2. Mengucapkan satu suku kata yang bermakna kalimat (mis. Pa berarti bapak) pada umur : ....................................

  3. Berbicara dengan satu kata bermakna pada umur : ..........................

  4. Berbicara dengan kalimat lengkap sederhana pada umur : …………….

F. Perkembangan Sosial :

  1. Hubungan dengan saudara : .............................................................

  2. Hubungan dengan teman : .............................................................

  3. Hubungan dengan orangtua : .............................................................

  4. Hobi : .............................................................

  5. Minat khusus : .............................................................



F. Perkembangan Pendidikan :

  1. Masuk TK umur : .............................................................

  2. Lama Pendidikan di TK : .............................................................

  3. Kesulitan selama di TK : .............................................................

  4. Masuk SD umur : .............................................................

  5. Kesulitan selama di SD : .............................................................

  6. Pernak tidak naik kelas : ..............................................................

  7. Pelayanan khusus yang pernah diterima anak: ...................................

  8. Prestasi belajar yang dicapai : ............................................................

  9. Mata Pelajaran yang dirasa paling sulit : .........................................

  10. Mata Pelajaran yang dirasa paling disenangi : ....................................

  11. Keterangan lain yang dianggap perlu : ................................................


Diisi Tanggal,…………………

Orang tua,




( …………………………….. )

Isian Form 2

DATA ORANG TUA/WALI SISWA

(Diisi orang tua/wali siswa)

1. Nama : ............................................

2. SD/MI : ...........................................

3. Kelas :............................................


A.Identitas Orang tua/wali

Ayah :

  1. Nama Ayah : ...............................................................................

  2. Umur : ...............................................................................

  3. Agama : ...............................................................................

  4. Status ayah : ................................................................................

  5. Pendidikan Tertinggi : ................................................................................

  6. Pekerjaan Pokok : ................................................................................

  7. Alamat tinggal : ................................................................................

Ibu :

  1. Nama Ibu : ...............................................................................

  2. Umur : ................................................................................

  3. Agama : ...............................................................................

  4. Status Ibu : ...............................................................................

  5. Pendidikan Tertinggi : ...............................................................................

  6. Pekerjaan Pokok : ...............................................................................

  7. Alamat tinggal : ...............................................................................

Wali :

  1. Nama : …………………………………………………………………….

  2. Umur : …………………………………………………………………….

  3. Agama : …………………………………………………………………….

  4. Status perkawinan : …………………………………………………………………….

  5. Pend. Tertinggi : …………………………………………………………………….

  6. Pekerjaan : …………………………………………………………………….

  7. Alamat : …………………………………………………………………….

  8. Hubungan Keluarga : …………………………………………………………………….


B. Hubungan Orang tua – anak

  1. Kedua orang tua satu rumah : .................................................................

  2. Anak satu rumah dengan kedua orang tua : .............................................

  3. Anak diasuh oleh salah satu orang tua : ..................................................

  4. Anak diasuh wali/saudara : .................................................


C. Sosial Ekonomi Orangtua

  1. Jabatan formal ayah di kantor (jika ada) : ................................................

  2. Jabatan formal ibu di kantor (jika ada) : ...............................................

  3. Jabatan informal ayah di luar kantor (jika ada) : .....................................

  4. Jabatan informal ibu di luar kantor (jika ada) : ..............................................

  5. Rata-rata penghasilan (kedua orangtua) perbulan : .......................................


D.Tanggungan dan Tanggapan Keluarga

  1. Jumlah anak : .............................................................................

  2. Ysb. Anak yang ke : .............................................................................

  3. Persepsi orang tua terhadap anak ysb. : .......................................................

  4. Kesulitan orang tua terhadap anak ysb.: ......................................................

  5. Harapan orang tua terhadap pendidikan anak ysb. : .................................

  6. Bantuan yang diharapkan orang tua untuk anak ysb.: ................................


Diisi tanggal :……………….

Orang tua/wali Murid



( ………………….……… )







FORM 3


ALAT IDENTIFIKASI ANAK LUAR BIASA


Nama Sekolah :

Kelas :

Diisi tanggal :

Nama Petugas :

Guru Kelas :


Gejala Yang Diamati

NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

dst

1. Gangguan Penglihatan (Tunanetra)



a

1, Gangguan Penglihatan (Low vition):

Kurang melihat (Kabur) tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter


















b

Kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya


















c

Tidak dapat menulis mengikuti garis lurus


















d

Sering meraba dan tersandung waktu berjalan


















e

Bagian bola mata yang hitam bewarna keruh/ bersisik/kering


















f

Mata bergoyang terus


















g

Peradangan hebat pada kedua bola mata


















h

Kerusakan nyata pada kedua bola mata



















2. Tidak Melihat (Blind)


















a

Tidak dapat membedakan cahaya





































2 Gangguan Pendengaran (Tunarungu)

a

1. Kurang pendengaran (hard of hearing)


Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar


















b

Banyak perhatian terhadap getaran


















c

Tidak ada reaksi terhadap bunyi/suara di dekatnya


















d

Terlambat dalam perkembangan bahasa


















e

Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi


















f

Kurang atau tidak tanggap bila diajakbicara


















a

2. Tuli (deaf)

Tidak mampu mendengar





































3. Tunagrahita





a

1. Kecerdasan

a. Ringan :


Memiliki IQ 50-70 (dari WISC)


















b

Dua kali berturut-turut tidak naik kelas


















c

Masih mampu membaca,menulis dan berhitung sederhana


















d

Tidak dapat berberfikir secara abstrak



















Perilaku adaptif


















a

Kurang perhatian terhadap lingkungan


















b

Sulit menyesuaikan diri dengan situasi (interaksi sosial)






































b. Sedang


















a

Memiliki IQ 25-50 (dari WISC)


















b

Tidak dapat berfikir secara abstrak


















c

Hanya mampu membaca kalimat tunggal


















d

Mengalami kesulitan dalam berhitung sekalipun sederhana






































Perilaku adaptif


















a

Perkembangan interaksi dan kumunikasinya terlambat


















b

Mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru (penyesuaian diri)


















c

Kurang mampu untuk mengurus diri sendiri






































C Berat


















a

Memiliki IQ 25- ke bawah (dari WISC)


















b

Hanya mampu membaca satu kata


















c.

Sama sekali tidak dapat berfikir secara abstrak






































Perilaku adaptif


















a

Tidak dapat melakukan kontak sosial


















b

Tidak mampu mengurus diri sendiri


















c

Akan banyak bergantung pada bantuan orang lain





































4. Tunadaksa/Kelainan Anggota Tubuh/Gerakkan

a

1. Polio

jari-jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam


















b

Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasanya


















c

Terdapat cacat pada alat gerak


















d

Kesulitan dalam melakukan gerakan (tidak sempurna, tidak lentur dan tidak terkendali)


















e

Anggota gerak kaku, lemah, lumpuh dan layu



















2. Cerebral Palcy (CP)


















a

Selain faktor yang ditunjukkan pada Polio juga disertai dalam gangguan otak


















b

Gerak yang ditampilkan kekakuan atau tremor






































5

Tunalaras (Anak yang mengalami gangguan emosi daan Perilaku


















a

Mudah terangsang emosimya/emosional/mudah marah


















b

Menentang otoritas


















c

Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu


















d

Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum dan agama





































6. Anak Berbakat/Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa

a

Membaca pada usia lebih muda,


















b

Membaca lebih cepat dan lebih banyak,


















c

Memiliki perbendaharaan kata yang luas,


















d

Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat


















e

Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa


















f

Mempunyai inisitif dan dapat bekerja sendiri,


















g

Menunjukkan kesalahan (orisinalitas) dalam ungkapan verbal


















h

Memberi jawaban, jawaban yang baik


















i

Dapat memberikan banyak gagasan,


















j

Luwes dalam berpikir


















k

Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan


















l

Mempunyai pengamatan yang tajam


















m

Dapat Berkonsentrasi dalam jangka waktu yang panjang terutama dalam tugas atau bidang yang minati


















n

Berpikir kritis juga terhadap diri sendiri


















o

Senang mencoba hal-hal baru


















p

Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi dan sintetis yang tinggi


















q

Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah-masalah


















r

Cepat menangkap hubungan sebab akibat


















s

Berprilaku terarah terhdap tujuan


















t

Mempunyai daya imajinasi yang kuat


















u

Mempunyai banyak kegemaran/hobi


















v

mempunyai daya ingat yang kuat


















w

Tidak cepat puas dengan prestasinya


















x

Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),


















y

Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan





































7. Anak Lamban Belajar

a

Daya tangkap terhadap pelajaran lambat


















b

Sering lamat dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik


















c

Rata-rata prestasi belajar selalu rendah


















d

Pernah tidak naik kelas



















Nilai Standar 4


















8. Anak yang Mengalami Kesulitan bBelajar Spesifik

8.1. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)


















a.

Perkembangan kemampuan membaca terlambat,



















Kemampuan memahami isi bacaan rendah,



















Kalau membaca sering banyak kesalahan





































8.2. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)


















a

Kalau menyali tulisan sering terlambat selesai


















b

Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya


















c

Hasil tulisannya jelek dan hampir tidak terbaca


















d

Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,


















e

Sulit menulis dengan lurus pada kertas bergaris



















Nilai Standar 4


















8.3. Anak yang mengalami kesuiltan belajar berhitung


















a

Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, <, >, =


















b

Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan


















c

sering salah membilang dengan urut


















d

Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8 dan sebagainya


















e

Sulit membedakan bangun geometri



















9

Anak Autis


















a

Kesulitan mengenal dan merespon dengan emosi dan isyarat sosial


















b

Tidak bisa menunjukkan perbedaan ekspresi muka secara jelas


















c

Kurang memiliki perasaan dan empati


















d

ekspresi emosi yang kaku


















e

Sering menunjukkan perilaku dan meledak-ledaK


















f

Menunjukkan perilaku yang bersifat stereotip


















g

Sulit untuk diajak berkomunikasi secara verbal


















h

Cevderung menyendiri


















i

Sering mengabaikan situasi disekelilingnya





































Kesimpulan :

















Isian Form 4

DAFTAR ANAK YANG BERINDIKASI BERKELAINAN DAN MEMERLUKAN PELAYANAN KHUSUS

1. SD/MI : .........................................

2. Kelas : .........................................

3. Nama Guru Kelas :......................................

No.

Nama

L/P

Uraian/kasus Masalah

Keterangan

1.




2.






3.

Amin




Roberta






Dst.

L




P




        1. Kesulitan Belajar Matematika

        2. Gangguan penglihatan

        3. Sering tidak masuk karena sakit


  1. Kesulitan hampir semua mata pelajaran (lamban belajar)

  2. Keluarga miskin,penghasilan rata rata Perbulan Rp.300.000, dengan jumlah tanggungan keluarga 8 orang.

Dst.

Standar Nilai yang dicapai = 4

Standar Nilai yang dicapai = 5

Standar Nilai yang dicapai = 4

Jumlah sdr. Yang sekolah 5



Dst.


Dibuat Tangal : ………………..

Guru Kelas,



( ………………………………. )















DAFTAR KEPUSTAKAAN



Educating of Children and Young People With Autism. Rita Jordan. Birmingham. University. United Kingdom. 1977.


Mengidentifikasi Siswa Berkesulitan Belajar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan. Jakarta. 1977.




























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

blh ikutan nimbrung koq